Oleh: mahasiswanegarawan | November 4, 2008

Antara ke Jepang, Perancis, Jerman, atau Tetap di Nusantara

Dua pekan terakhir, mungkin tema hidupku hunting beasiswa ke luar negeri. Senin pekan lalu, aq ikut presentasi beasiswa master dari Kanazawa University di ruang Basic Science B. Orang Jepangnya langsung presentasi di ITB, karena kebetulan ada acara ICMNS II. Dua hari setelah itu, hari rabu, aq ikut presentasi beasiswa dari Tokyo Institute of Technology di ruang 9311. Yang dari Tokyo ini lebih keren daripada yang dari Kanazawa. Ya jelas lah, peringkat universitas aja beda. Besoknya, hari Kamis, sebenarnya ada presentasi beasiswa dari National Taiwan University. Tapi, aq ga bs ikut soalnya bentrok ama jadwal ngajar bimbel SMA di NATC. Padahal, untuk presentasi dari NTU, qta bisa langsung kasih aplikasi pendaftaran beasiswa.

Nah, dua hari yang lalu, hari Minggu. Aq ma Iqbal (Fi 04, calon ahli fisika nuklir buronan CIA) jalan2 ke European Higher Education Fair (EHEF) di Balai Kartini, Jakarta. Lumayan keren, banyak stand universitas di Eropa. Aq sempat ngobtol dengan doktor Teknik Kimia dari University of Gronigen menggunakan TOEFL-ku yang pas-pasan (hihi). Katanya sih, jurusan kimia di Gronigen, the best in Netherland. Terus mampir ke stand universitas dari Jerman. Ternyata biaya SPP untuk master di Jerman hampir sama dengan biaya kuliah master di Indonesia. Di Jerman, rata2 SPP untuk kuliah master sekitar 500 Euro /semester (kalo 1 euro ~ 13.000, berarti ekivalen ~Rp.6.500.000). Berarti hampir sama donk dengan biaya kuliah master di ITB yang sekitar 5-6 jutaan / semester. Tapi kan, kualitas kuliah di Jerman jauh lebih hebring dibandingkan dengan di Indonesia. Terus disana, qta bs kerja part time atau riset qta di lab digaji sama profesornya (sekitar 9 euro/jam untuk kerja di lab).

Nah, besok hari Rabu. Ada acara Perancis Masuk Kampus. Acaranya pameran pendidikan tinggi dari Perancis, tempatnya di Campus Center barat. Pasti ada peluang-peluang tawaran beasiswa di situ.

Duh, jadi bingung banyak pilihan gini. Padahal, ba’da lebaran kemarin, aq dah ngerencanain mw jd Technopreneur bikin usaha budidaya dan penyulingan nilam di Kuningan. Aq dah survey n Bapak ku dah siapin lahan di sono. Skrg lagi cari2 modal n link bisnisnya.

Sebenernya aq dah geregetan ngelihat potensi natural resource Indonesia yang berlimpah ruaaaaaah. Dari kacamata orang kimia, Indonesia adalah surga senyawa-senyawa kimia alam yang akan mengubah peradaban dunia. Indonesia adalah surga perburuan gen-gen berbagai spesies untuk industri bioteknologi. Indonesia adalah surga mineral untuk material nanoteknologi.

4 tahun di Smakbow n 5 tahun di ITB rasanya dah mantep betul gemblengan untuk menjadi kimiawan yang akan mengubah peradaban dunia, yah minimal Nusantara dulu lah (Sorry, aq gak suka dgn Istilah Indonesia, kerena nama Indonesia pemberian orang jerman n Belanda).

Sebenarnya agak ngeri jg kalo kuliah tinggi ke luar negeri, apalagi ambil tema yang ‘Advance Science’. Takut gak kepake ilmunya pas balik ke Indonesia. Cerita temanku yang kerja di Lipi, peneliti di Lipi yang gelarnya ngeri-ngeri (Prof, Dr, M.Sc, D.Sc, Ph.D, DEA, Dr.Eng, dll silakan teruskan sendiri) gak bisa berbuat banyak mengembangkan aplikasi ilmunya. Malah katanya, ada seorang Doktor peneliti jenius yang di bidang Magnetic Material Science, akhirnya nyambi bisnis pasir besi (hihihi). Apalagi, tema penetian Tugas Akhirku kan imajiner banget, tentang simulasi Molecular Dynamics unfolding molekul protein. Mau ngapain coba? kecuali di Nusantara ada tempat kayak Hyderabad Genome Valley, aq bisa ngembangin Nanobioteknologi rekayasa gen dan protein (mahluk apakah itu nanobioteknologi?).

Pusing euy, apalagi lihat momentum 2009. Kayaknya aq mw jadi revolusioner aja deh. Membubarkan negara ini, terus bikin negara baru yang bernama Nusantara. Negeri impianku !

(5 November, dini hari yang sepi, dtemani kopi panas, menyelesaikan script analisis hasil MD program AMBER)


Responses

  1. Sebenarnya yang jadi permasalahan adalah tujuan untuk apa seorang belajar ke luar ngeri (eh negeri). Apakah untuk mendapatkan gelar (ex. M.Sc or Ph.D) atau ada tujuan lain. Kalo saya lihat kebanyakan orang Indonesia belajar ke luar negeri hanyalah untuk mendapatkan gelar (Ph.D khususnya). Akhirnya ketika mereka pulang hanyalah bangga hanya membawa embel-embel yang memperpanjang namanya, misalnya jika Suharta ke luar negeri maka akan bergelar Suharta, S.Si, M.Sc, Ph.D (jadi panjang banget namanya ya?hehe). Kebanggaan mereka ketika pulang ya hanyalah gelar yang melekat itu. Tidak melangkah ke tataran berikutnya, ‘apa yang akan saya lakukan ketika kembali ke tanah air’.
    Memang di sini perlu sinergi yang baik antara pemerintah dengan para mahasiswa Indonesia yang belajar ke luar negeri. Seharusnya pemerintah dapat memberdayakan (bukan memperdayakan, :-D) para Ph.D yang lulusan luar negeri sehingga ketika pulang ke tanah air bisa menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. Sampai saat ini nampaknya pemerintah belum memiliki strategi apapun terkait pemberdayaan ini (ya… maklum lah, mereka2 yang di atas sana hanya sibuk pada acara bagi-bagi kue ‘kekuasaan’ :-(). Terus alumni dari luar negeripun harus memiliki kemampuan berinovasi dan rasa nasionalisme yang tinggi pula, sehingga ketika dia pulang ke tanah air dapat mencari celah di tengah keterbatasan yang ada di negeri ini.
    Kalau aku sih akan menjaga gawang di negeri ini, silakan kawan2 saya ke luar negeri untuk mengejar Ph.Dnya, biarkan aku berada di negeri ini berbagi dengan orang lain yang tidak seberuntung diri ini. Berbagi apapun sesuai yang aku miliki. Kutunggu kawan2ku yang mengejar Ph.Dnya di luar negeri, aku akan menyiapkan negeri ini jika suatu saat kalian pulang nanti.

    Salam dari orang yang sangat mencintai negeri ini. SJW

  2. ih, ga sopan pisan. masa cuman cia, mossadnya mana..:mrgreen:

    sepakat tuh, sama pak bupati. jangan memperbanyak orang pinter yang bengong di Indo… (eh, Nusantara😛 )

    tapi jadi pioneer juga ga salah sih, cuma harus rada tahan aja kalau nanti ga ada bidang aplikasinya di indonesia.😆

  3. wah… bener-bener berambisi jadi
    seorang “chemiawan” rupanya😛

  4. aq setuju banget tuh, kul ke LN, musti ada tujuan nya untuk negara qt, namun emang sih kadang, ngga bisa dipungkiri ql di negara qt sring minim penghargaan..

    yah imagine ngga

    ql qt yg berjuang dari sabang ampe merauke, cuma jadi kacung doang, sementara pendatang jadi raja,…

    aq rasa mulai dari qt sendiri untuk merubah itu semua,

    menurut ku diskriminasi itu kadang perlu juga utk jaga habitat sendiri..

    contoh : temanku yg tinggal di USA, married ama orang US, dia kuliah S2 dan pintar, dapet cum laude di uni disana, ampe masuk koran di daerahnya, pas kerja gajinya lbh kecil dr gaji orang asli sana,..ql menurutku pribadi “that’s fair man”…itu cuma cara mereka mempertahankan kaumnya….beda ama indonesaia, yg menurutku masih dijajah eventhough volumenya ngga seperti penjajahan dulu….

    BTW..
    Salam kenal yah..

  5. Assalaualikum,,

    oh no, why do u say so?
    you said you love nusantara,,
    you know?!! nusantara is in indonesia, eventhough you want to broke it,🙂
    be pattient plz!!
    dont go! dont go like people who have gone leaved “little nusantara” alone.
    you know?!! the “little Nusantara” will never grow as yourdream if you go..
    we need manypeople like you,
    be pattient plz,because Allah will give us wayout,,
    insya Allah…

    Wassalamualikum..

  6. baca ini jadi termotivasi deh…
    go revolution!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: