Oleh: mahasiswanegarawan | Januari 3, 2008

MENGATASI SINDROM ALERGI PERUBAHAN

MENGATASI SINDROM ALERGI PERUBAHAN
Sebuah Refleksi Perjalanan Kebangsaan  kita

            Sebuah pertanyaan di benak saya, mengapa Indonesia belum juga keluar dari krisis ekonomi sejak tahun 1997?. Padahal negara-negara tetangga di Asia yang juga pernah mengalami krisis ekonomi seperti Malaysia, Thailand, Korea Selatan mulai berangsur-angsur bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bahkan, krisis yang dialami Indonesia semakin kompleks merambah ke bidang sosial-politik.   

            Banyak analisis yang dikemukakan oleh para ahli mengenai masalah akar krisis bangsa kita. Bebarapa akar masalah dikemukakan oleh para cerdik cendikia : moralitas, budaya, sistem kenegaraan, hukum,  pendidikan, dll. Semua yang dikatakan adalah hal yang telah ada sejak dahulu. Bahkan nilai-nilainya telah dimuat dalam kitab-kitab suci yang dibawa oleh para nabi.  Saat ini hanya dipertegas saja dengan berpijak pada sejumlah penelitian ilmiah.

            Ketika didera oleh masalah, mentalitas negara yang ingin maju adalah melakukan perubahan. Secara struktural pemerintahnya melakukan perubahan, secara kultural masyarakatnya pun melakukan perubahan.

            Negara China yang dahulu terkenal korup, kini semakin bersih dari korupsi. Ketika pemerintahnya tegas memberi hukuman berat kepada koruptor. Bangsa China yang dahulu miskin di bawah sistem ekonomi sosialisme, kini bangkit menggurita menjadi raksasa ekonomi dunia. Revolusi kebudayaan yang diinisiasi Deng Xiaoping membuat masyarakat China terbuka dan sigap memperbaiki etos kerja untuk perbaikan ekonominya dalam waktu kurang dari 20 tahun.

            Jepang mempunyai luas area yang terbatas, dilalui pegunungan berapi, dan dilewati lempengan bumi rawan gempa. Namun, saat ini Jepang merupakan raksasa ekonomi nomor satu Asia dan nomor dua dunia di bawah Amerika Serikat. Jepang ibarat area industri mengambang di atas lautan yang mengimpor bahan baku dari berbagai penjuru dunia dan mengekspor bahan jadinya.

            Ras, letak geografis, dan ketersedian sumber daya alam bukanlah faktor yang menentukan kemajuan suatu negara-bangsa. Namun, yang utama adalah kemauan pemerintah dan rakyat negara-bangsa tersebut untuk melakukan PERUBAHAN. Mengubah dirinya untuk memegang prinsip-prinsip kehidupan : etika, kejujuran, integritas, bertanggung jawab, menaati hukum dan norma, disiplin, dan kerja keras.

            Ribuan ceramah ulama dan rohaniawan di mimbar rumah ibadah, lapangan, dan media elektronik menghiasai keseharian masyarakat Indonesia dari mulai waktu subuh hingga penghujung malam. Ribuan tulisan seruan nasihat dan opini cendekiawan setiap hari beredar. Namun, pemerintah dan masyarakat Indonesia belum bergeming merespon untuk melakukan perubahan.

            Pemerintah masih diliputi birokrasi yang korup. Masyarakat tidak tertib berlalu lintas, sembarangan membuang sampah, dan tidak disiplin waktu. Tidak heran bahwa Indonesia terus berputar-putar dalam krisis. Bangsa Indonesia mengalami sindrom alergi perubahan. Sindrom ini dapat diatasi tergantung bagimana cara kita memandang tajam masalah.

Masalah Bukanlah Beban, Melainkan Tantangan Kebangsaan Kita

            Orang-orang kalah menganggap masalah sebagai beban, sehingga cenderung menghindarinya. Sebaliknya, para pemenang menganggap masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi. Masalah adalah hadiah yang harus diterima secara sukacita. Para pemenang akan melihat keberhasilan yang semakin menguatkan diri dibalik setiap masalah seperti langkah kaki menapaki tangga. 

            Tempurung yang berat tidak menggoyahkan langkah kura-kura untuk melangkah. Tubuh yang berat tidak melemahkan sayap capung untuk mengipaskan tenaga terbang. Sang Pencipta tidak membebankan sebuah masalah di luar kemampuan mahluknya. 

            Hadiah terbesar induk Elang kepada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan sarapan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam hari. Namun, ketika sang induk Elang melemparkan anak-anaknya dari sarang di tebing tinggi. Detik pertama dan kedua, mungkin anak-anak elang tersebut menganggap induk mereka keterlaluan dengan menjerit panik. Pada detik-detik selanjutnya, bukanlah kepanikan yang mereka rasakan. Namun, kesejatian diri sebagai Elang yang terbang.

            Begitulah bangsa Indonesia ketika dihadapkan pada krisis. Detik-detik pertama adalah kepanikan. Namun, selanjutnya krisis membuat anak-anak bangsa ini tersadarkan dari tidur lelapnya. Anak-anak bangsa kini mulai bangkit dan berusaha membangun kembali peradabannya sembari mentransfer energi untuk menggerakan perubahan.

 

Cekungan Bandung,
Rabu, 49 jam setelah memasuki tahun 2008

Tata Chemiawan-

 Inspired by :

  1. Q.S Al-Baqoroh : 216, 286
  2. Q.S Ar-Ra’d : 11
  3. Hukum Mekanika Newton : Ketika benda diam, maka untuk mengubah posisi dan percepatannya dibutuhkan gaya penggerak yang lebih besar daripada gaya berat benda dan gaya gesek statis benda tersebut. Ketika benda bergerak, maka untuk mengubah posisi dan percepatannya dibutuhkan gaya penggerak yang lebih besar daripada gaya berat dan gaya gesek kinetik benda tersebut. Koefiseien gaya gesek statis lebih besar daripada koefisien gaya gesek kinetik. Sehingga untuk mengubah posisi dan percepatan benda yang sedang diam akan relatif membutuhkan gaya yang lebih besar daripada benda yang sedang bergerak. Akibat gaya tolak yang lebih besar oleh gaya gesek statis.

Responses

  1. kayanya cendikiawan,ulawa,dan rohaniawan masuk ke politik aja…daripada menyeru2 dari luar tp g direspon

  2. Assalamualaikum
    jangan lupa kunjungi “www.partaikeadilansejahtera.wordpress.com’
    beritahukan juga pada yang lain karena ada diskusi menarik disana. salam ukhuwah.
    wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: